Sekalipun puisi ini laguan baru
iramanya tetap seperti dulu
nada sendu, nada pilu, nada rindu
bersiduga menafsir bintang
puisi yang pernah hilang.
Sedari dalam prosa-prosamu
wajah esok masih samar-samar
yakini dari rencam rasaku
wajah malam masih semalam
lalu seru lah suara-suara matang
jerit nada kita semakin mengerang
wirama kita yang telah kecundang.
Lalu puisi-puisiku yang tinggal hanya rayuan,
lalu prosa-prosamu yang tinggal hanya tangisan
memecah sunyi alam,
mencecah langit malam
jatuh kembali
dalam diri kita
dalam diri kita
dalam hati kita.
Duhai luhur yang singgah
sapalah dengan nurani
embun masih di hati
selagi-lagi, semahu-mahu
seperti dulu
puisi ini untukmu ...
Puisi ini untukmu.
.
Angah Arie
Delusani 010613 00:06

No comments:
Post a Comment